Mengapa harus nama Yahweh dan melarang nama Allah

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Mengapa harus nama Yahweh dan melarang nama Allah

Post  Joemedancom on Wed Jun 02, 2010 10:03 am

Mengapa harus nama Yahweh dan melarang nama Allah
Oleh Pdt. Jontrianto

Beberapa tahun belakangan ini terjadi perdebatan tentang siapa nama Tuhannya orang Kristen. Yang akhirnya membuat jemaat biasa bingung dan bertanya-tanya. Ada beberapa sikap jemaat ketika mengetahui akan hal ini. Ada yang setuju, ada diam. Ada yang bingung, ada tidak mau tahu, ada yang tidak setuju, ada yang agresif, ada yang santai sambil belajar. Pokoknya ada beraneka ragam sikap jemaat yang tahu akan masalah ini. Tulisan ini adalah hasil dari bacaan, perenungan dan sharing saya. Dari beberapa berdebatan yang saya baca di internet, saya mencoba menuliskan, tulisan ini dengan kemampuan saya. Jikalau pembaca pun kurang setuju dengan kesimpulan saya, tidak apa-apa, karena saya menghargai perbedaan. Perbedaan bukan membuat kita menjadi lawan, tetapi semakin berteman, kalau kita dengan rendah hati sama-sama menghargai perbedaan-perbedaan itu. Saya tidak bisa memaksa anda untuk mengikuti kesimpulan saya. Demikian juga sebaliknya anda tidak bisa paksa saya untuk mengikuti kesimpulan dan keputusan anda. Kalau ada kritikan yang membangun, silahkan kirim melalui email jontrianto@yahoo.com. Supaya kita bisa mensharingkannya, karena saya juga masih harus banyak belajar akan pembahasan ini. Ada beberapa hal yang akan bahas disini.

1. Beberapa tahun belakangan ini ada orang-orang yang mengharuskan memakai nama Yahweh dan melarang menggunakan kata Allah sebagai Tuhannya orang Kristen. Saya akan menanggapi hal ini dengan mengatakan bahwa yang saya permasalahkan bukanlah soal nama, tetapi soal keharusan memakai nama Yahweh dan melarang pemakaian kata Allah. Apakah betul nama Tuhan kita adalah Yahweh atau bukan? Saya kutip dari seminar Pdt Budi Asali sebagai berikut:

a. Herman Hoeksema (kutipan): karena itu muncul pertanyaan berkenaan dengan pemberian huruf hidup dan pelapalan/pengucapan dari nama itu (YHWH). Jawaban atas pertanyaan ini hanya bisa diduga-duga/diterka. Dan ahli-ahli bahasa telah mengusulkan kemungkinan-kemungkinan yang berbeda. (reformed dogmatika, hal 68)

b. Herman Bavink (kutipan): karena rasa takut orang Yahudi untuk mengucapkan nama ini (YHWH), pengucapan dari orisinilnya, dari mana kata itu diturunkan dan artinya hilang dan karena rasa takut dari orang-orang Yahudi untuk mengucapkan nama ini, pengucapan orisinilnya telah dilupakan. (The Doctrin Of God hal 102-103)

c. Adam Clarke (kutipan: tentang imamat 24:16): orang-orang Yahudi tidak pernah mengucapkan nama ini dan begitu lama tidak pernah digunakan diantara mereka sehingga pengucapan yang benar sekarang hilang.

d. The International Standard Bible Encyclopedia, vol II (kutipan): pengucapan dari YHWH dalam PL, tidak pernah bisa pasti, karena text Ibrani yang orisinil/asli hanya menggunakan huruf-huruf mati (hal 507)

e. Dalam NASB, pada bab yang berjudul Principles of Translation: diketahui bahwa untuk banyak tahun bahwa YHWH telah ditransliterasikan sebagai Yahweh, tetapi tidak ada kepastian sepenuhnya yang diberikan pada pengucapan ini.

Kesimpulan saya ketika membaca kutipan ini demikian: kalau memang para ahli, tidak bisa dengan pasti menyebutkan nama Allah kita, mengapa ada orang yang saat ini seolah-olah tahu dan memastikan nama Allah kita? dan mereka berani mengatakan bahwa Yahweh lah nama Allah kita? dan hal itu diseminarkan dan disampaikan kemana-mana, yang akhirnya hanya membuat konflik dijemaat-jemaat. Kita tahu dengan pasti siapa yang tertawa ketika jemaat-jemaat konflik? Saya masih ingat apa yang pernah dikatakan Almarhum Gusdur, yang bunyinya begini, “itu orang Kristen jangan diganggu, jangan dibabat, karena semakin dibabat, semakin merambat, kasi saja bantuan kegereja-gereja, nanti akan ribut sendiri”. Ini nampaknya lelucon, tetapi inilah yang sering terjadi digereja-gereja kita. Sesuatu yang tidak pasti, lalu dianggap sebagai kebenaran saya contohkan sebagai seorang peramal yang bisa meramal orang lain, tetapi tidak bisa meramal dirinya sendiri.

2. Kata Allah dilarang karena itu adalah bukan nama sesambahan orang Kristen, karena nama Allah adalah dewa. Ketika saya mengikuti seminar tentang pemulihan nama Tuhan, pembicara (Ps. Steven Djie) banyak menjelaskan tentang siapa itu ALLAH, saya tidak perlu menjelaskan terlalu dalam tentang hal ini, karena kalau anda mau tahu, silahkan menghubungi pembicara yang menyampaikan itu pada saya. Yang menjadi pertanyaan saya, mengapa pembicara tidak menjelaskan siapa nama Elohim itu? siapa Yahweh itu? Siapa El itu? dan lain2 sebagainya. Apakah Elohim, Yahweh, El dan lain2 sebagainya tidak nama Baal/dewa? Dibawah ini saya akan menuliskan tentang siapa itu El, Elyon, Yahu, Yahweh, Elohim, Baal, dll. Dengan tujuan agar pembaca dapat membandingkan dengan apa yang dikatakan/diseminarkan Ps. Steven Djie. Bolehkan? Ya tentu boleh lah.. supaya pembaca bisa menilai dengan jujur dan adil.



.......

_________________
Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya ( Amsal 10:22 )

Joemedancom
Manusia biasa
Manusia biasa


Kembali Ke Atas Go down

Re: Mengapa harus nama Yahweh dan melarang nama Allah

Post  Joemedancom on Wed Jun 02, 2010 10:31 am

BAGAIMANA BANGSA ISRAEL MENGENAL NAMA YAHWEH

1. Ada beberapa hal yang dapat dipastikan untuk mencoba memahami tentang bangsa Israel mengenal nama Yahweh.

a. Bangsa Israel memperoleh imannya akan Yahweh dipadang gurun
b. Bahwa selain dari tradisi-tradisi kuno yang dikumpulkan oleh sumber Yahwis dan sumber Elohis, maka ada sumber kuno yang lain yaitu Hakim-hakim 5 dan Mazmur 68, yang begitu erat mengkaitkan nama Yahweh dengan Sinai, sehingga Yahweh disebut Pemilik Sinai atau Penguasa Sinai.
c. Apakah tidak mudah kembali pada teori lama, yaitu bahwa kelompok-kelompok yang meloloskan diri dari Mesir dan lari ke Gurun Sinai, telah mengambil alih “ibadat kepada Yahweh” dari kaum Keni yang tinggal dipadang Gurun Sinai itu?
Jadi setelah mempertimbangkan bahan-bahan, kita terdorong pada satu kesimpulan, yaitu bahwa ada hubungan erat antara “riwayat Sinai Yahweh” dengan “riwayat pembebasan dari Mesir”, “perjalanan di gurun” dan “perebutan tanah Kanaan” (Vriezen, Agama Israel Kuno, hal 131)

SIAPA YAHWEH


1. Interpretasi yang paling sederhana bertolak dari bahasa Ibrani, yang menafsirkan kata Yahweh sebagai perkembangan dari kata kerja hayah, yaitu ‘berada’, ‘menjadi’ Itu berarti bahwa Yahweh diterjemahkan dengan ‘Dia ada’ atau ‘Dia akan ada’ atau (dari Hiphil) ‘Dia menyebabkan sesuatu ada’. Interpretasi pertama ini didasarkan keluaran 3:14 yaitu penjelasan berasal dari sumber Elohis.

2. Dari akar kata bahasa Arab dapat ditarik arti seperti “Dia jatuh” atau “Dia menyebabkan sesuatu jatuh”, yaitu suatu interpretasi yang sesuai dengan pendapat bahwa Yahweh mula-mula merupakan ilah badai atau ilah guntur.

3. Tentunya, Yahweh dapat mengambil alih beberapa sifat Baal, misalnya peranannya sebagai pemberi kesuburan, tetapi identifikasi/penentuan identitas dengan Baal tidak mungkin

4. Suatu hipotesis (Hipotesis artinya sesuatu yang dianggap benar untuk alasan, meskipun kebenarannya belum dapat dibuktikan) yang sudah diajukan sejak dulu bahwa nama itu berasal dari kaum Keni, suatu suku yang mempunyai hubungan erat dengan Musa. Salah satu bahan bukti yang dapat mendukung Hipotesis Keni ini adalah fakta bahwa dalam pra-sejarah (Kejadian 1:1-11) nama Kain (yang memang dianggap nenek moyang kaum Keni) dikaitkan dengan nama Yahweh. Dalam dokumen-dokumen kuno Yahweh berkali-kali dikaitkan dengan Sinai atau Syeir, bahkan Dia diberi gelar “Zeh Sinai”, yaitu Penguasa Sinai (Hakim 5:5; Mzm 68:9). Gelar dalam bentuk itu hanya dikenal di dunia Arab. Istilah ‘Zeh’ atau ‘Zu’ sering dipakai dalam agama-agama padang gurun untuk menunjukkan ilah tertentu mempunyai hubungan dengan wilayah tertentu.

5. Mungkin benar bahwa nama Yahweh sudah ada sejak zaman pra-Israel. Jelas juga bahwa Yahweh dibayangkan sebagai penguasa gunung dan langit, sehingga dalam hal ini Dia mirip Hadad (Enlil). Hadat adalah ilah badai dan ilah cuaca merupakan ilah utama, yang muncul pertama di Damsyik, juga di Arpad, mungkin juga di Hamat, besar kemungkinan juga kaum Aram membawa Hadat sewaktu mereka masuk padang gurun. Agaknya Hadat diidentikan dengan Baal-Syamayim, penguasa langit dan bumi, yang identik dengan El di semit Barat.

6. Dapat dicatat bahwa dalam beberapa nas terdapat nama Yahu, yang menunjukkan ilah tertentu di Hamat. Nama ini pastilah sama dengan nama Yahweh dalam bahasa Ibrani.

7. El adalah kepala Panteon (Ilah Finisia Kanaan), Elat dilukiskan sebagai dewi tumbuh-tumbuhan yang berhubungan erat dengan Baal, identik dengan Astarte. Di Ugarit, Astarte adalah dewi kesuburan dan pasangan Baal. Di Yerusalem kuno EL diberi nama El Elyon, dia dianggap sebagai kepala panteon dan Pencipta (bnd kej 14:8). Yang menjadi bukti bahwa Anat disembah di Kanaan dan Betel pada periode kemudian, juga merupakan tempat penyembahan Anat, dimana dia dianggap sebagai anak perempuan Yahweh. Jelaslah bahwa naskah-naskah dari Elefatin, menghubungkan Anat (Anat Yahu) dengan Yahweh, dan mengkaitkannya juga dengan Betel (Anat-Betel).

8. Salah satu ilah yang cukup terkenal di Moab adalah Khemosy. Juga tertulis bahwa Raja Mesya merebut beberapa alat Yahweh, dan memindahkannya ke kuil Khemosy. Ada ahli yang mengatakan bahwa Khemosy itu adalah ‘ilah perang’. Dan hal itu tidak dapat disangkal. Juga Yahweh dalam Perjanjian Lama disebut sebagai ‘pahlawan perang’

9. Fungsi-fungsi alamiah yang mula-mula melekat pada Yahweh sebagai Allah pegunungan, Allah angin, Allah badai (yaitu kuasa-kuasa alam yang menjadi alat-Nya dalam menguasai kehidupan suku-suku disekitar Sinai) masih tetap ada pada Yahweh sesudah Dia menjadi Allah Israel.

10. Tetapi, jelas dari ‘Nyanyian Debora’ (Hakim 5:1-31) bahwa konsep ‘peperangan Yahweh’ sebelum tradisi-tradisi itu dinaskahkan. Istilah bahwa adalah ‘Pahlawan perang’ makin popular dikalangan amfiktioni (Persekutuan 12 suku Israel). Sebelum pertempuran dimulai, para pejuang meminta orakulum Yahweh (orakulum tidak hanya bersifat ramalan, tetapi juga ada unsur magisnya), para penyair melontarkan kutukan terhadap musuh (bnd peran Bileam 22-24), para pejuang dihibur dengan nyanyian-nyanyian kemenangan Yahweh (bnd Hakim 5:12). Senjata perang suci mulai disiapkan dan para pejuang menyucikan diri (2 Samuel 21:5) dengan menghindarkan diri dengan hubungan seksual. Yahweh sendiri mengawali barisan perang (Hakim 4:14; I Sam 4). Teriakan “demi Yahweh dan demi Pemimpin” (bnd Hakim 7: 18) diserukan, kemudian para pejuang langsung bertempur, teriakan itu disebut “teru’ah” (sorak sorai), yaitu “yel perang demi Yahweh”. Pada periode kemudian kemudian para pejuang menyanyikan lagu seperti dalam Mazmur 2 secara bersahut-sahutan, kemudian pertempuran berlangsung seluruhnya “demi nama Yahweh”, supaya memberi kemenangan (Hakim 7:22; 1 Sam 14:6). Ada ahli-ahli berpendapat bahwa ‘perang Yahweh’ hanya dipakai untuk membela diri. Tetapi, sukar untuk memisahkan secara tajam perang membela diri dengan perang agresif. Contoh-contohnya unsur agresif dalam ‘perang Yahweh’, bandingkan dengan 1 Samuel 15:2 dan seterusnya, Keluaran 17:16b dan Bilangan 24:18 dan seterusnya.

Kalau saya bandingkan hal ini dengan materi Steven Djie yang mengatakan bahwa bagi suatu penganut agama tertentu, yang percaya kepada Allah yang melakukan kekerasan pada orang lain, maka mereka akan berteriak-teriak dengan mengatakan Allah maha kuasa, dengan otomatis dia akan mendapat kuasa/tenaga yang lebih lagi, maka mereka bisa semakin kasar. Kemudian Steven Djie, meneguhkan pernyataannya dengan menutip buku C. Peter Wagner yang berjudul Who IS Allah, dimana Wagner mengatakan bahwa Allah itu adalah Devil Spirit (roh kegelapan), bukankah apa yang dilakukan Debora (Hakim 5:1-31) dan apa yang dikatakan Steven Djie sama. Jadi kalau memang hal itu sama, mengapa menyudutkan yang satu dan membela diri sendiri. Ini kan aneh, cukup aneh..saya harap dikemudian hari pendeta Steven Djie, dengan rendah hati bisa mengubah pandangannya kearah yang lebih baik.

11. Konsep-konsep kerup yang dipasang pada tabut memang diambil alih dari kebudayaan Kanaani, dan merupakan bahwa bukti tentang cara Israel pada waktu itu membayangkan kekuasaan Yahweh. Makhluk-makhluk mitologis yang penuh kuasa itu dikaitkan dengan nama Yahweh sebagai perlambangan kemahakuasaan Yahweh sendiri. Mungkin juga istilah Tsebaoth, yaitu “ penguasa/panglima pasukan-pasukan”. (kata Tsebaoth ini banyak muncul dalam Kitab Suci ILT). Tsebaoth ini diidentikkan dengan bintang-bintang, namun dalam konteks lain digambarkan sebagai oknum-oknum rohani yang mondar mandir di atas bumi, atau di bawah bumi. (bnd. Kel 20:4)

12. Disamping ciri-ciri yang diambil alih oleh Yahweh dari dunia politik dan militer, ada sifat-sifat yang diambilNya (Yahweh) dari El dan Baal. Memang fakta itu tidak mengherankan, bahkan suku-suku Israel yang sudah lama di Kanaan, sudah mempersatukan imannya akan “Allah nenek moyang” itu dengan konsep-konsep yang terambil dari agama El di tanah Kanaan, sebelum mereka menganut Yahwisme. Itu berarti bahwa bila mereka Yahwisme, maka terjadilah suatu peleburan tahap ke dua, yaitu ciri-ciri ‘Allah nenek moyang’ dan ciri El dikaitkan dengan Yahweh, sehingga Yahweh dapat menjadi Allah pencipta yang Mahabijaksana dan dapat mengambil alih nama-nama El, Elohim dan Elyon.

13. Konsep kesuburan juga diambil alih, sehingga Yahweh sendiri digambarkan sebagai Penguasa tanah dan Pemberi anggur, minyak dan buah-buahan (Hosea 2:7;13;17, 14:6; Ulangan 26:1, bnd. Mzm 65:10, Mzm 104. Mazmur-mazmur Kanaani (mis Mzm 29) diambil alih demi memperkaya ibadat kepada Yahweh. Ritus-ritus (acara keagamaan) mendatangkan hujan ditiru (I Raja 18:34) dan pada zaman kemudian, pada terakhir dalam Pesta Pondok Daun. (Yohanes 7:37).

14. Dengan cara demikian, Baalisme menyumbangkan sesuatu yang memperkaya gambaran Yahweh. Yaitu bahan-bahan dari Baalisme dipakai untuk menekankan bahwa Yahwehlah yang menguasai alam semesta. Lambat laun Yahweh juga memperoleh gelar, yang dulu dipakai untuk El dan Baal. misalnya gelar “melekh” (raja), mula-mula dikenakan kepada El, namun kemudian menjadi gelar Yahweh

15. Memang pada perkembangan kemudian, Israel makin segan mengucapkan nama Yahweh, sehingga menggantikannya dengan gelar “Adonay”, Tuhan ku
Sekali lagi saya mau katakan kepada pembaca bahwa saya tidak mempermasahkan nama Yahweh. Tetapi mengapa nama Yahweh diharuskan dan mengapa nama Allah di larang? Kalau dalam sejarah, ternyata nama Yahweh, El, Baal, Elohim, Yahu, adalah nama Dewa. Mengapa Kitab Suci ILT masih memakai nama itu? bukankah itu adalah nama-nama dewa? Seharusnya kalaupun mau konsisten, nama itu juga jangan dipakai dong.
Tetapi menurut saya sekalipun (Yahweh, El, Baal, Elohim, Yahu) adalah nama-nama dewa jika dipakai Allah untuk menyatakan kuasaNYA, mengapa tidak bisa? Mengapa tidak mungkin? Saya pikir pasti bisa dan pasti mungkin. Karena Allah adalah Pencipta dan semua di dunia ini adalah ciptaanNya. Hal yang sama juga dengan dengan nama Allah, sekalipun nama Allah adalah dewa, apakah tidak bisa Allah memakai nama itu untuk menunjukan kuasaNya bagi umatNya? Saya yakin dengan iman saya, juga bisa dan juga mungkin. Sedangkan lumpur saja bisa Tuhan pakai sebagai sarana untuk menunjukan kuasaNya kepada manusia, sangat terbukti dimana Yesus mencelikkan mata orang buta, menggunakan lumpur sebagai alatNya. Kalau misalkan ada suku yang nama dewanya adalah lumpur, lantas apakah kita tidak boleh menggunakan lumpur sebagai alat/sarana untuk menyatakan kemuliaanNya? Apakah lumpurnya yang berkuasa? Bukan.. tetapi yang berkuasa adalah Yesusnya, Allahnya. Jadi apapun bisa dipakai Tuhan untuk menunjukkan kuasaNya. Karena disinilah letak KEMAHA-KUASAANYA. Sebagai manusia yang sangat terbatas dan banyak kelemahan, masakan kita lebih pandai dari Tuhan? Ah yang betul saja lah, hihi…
Coba baca keluaran 6:2 “Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah yang maha kuasa, tetapi dengan namaKu, TUHAN aku belum menyatakan diri” silahkan dipikirkan sendiri arti dari ayat ini?



.......

_________________
Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya ( Amsal 10:22 )

Joemedancom
Manusia biasa
Manusia biasa


Kembali Ke Atas Go down

Re: Mengapa harus nama Yahweh dan melarang nama Allah

Post  Joemedancom on Wed Jun 02, 2010 12:04 pm


3. Di dalam Alkitab juga banyak cerita-cerita rakyat, dongeng-dongeng yang diadopsi penulis Alkitab untuk menunjukkan kuasa Tuhan. Salah satu contohnya adalah cerita penciptaan manusia Adam dan Hawa. Bukankah ini cerita dari negeri Babel, tetapi cerita ini pun dipakai penulis Alkitab untuk menyampaikan pesan Allah kepada pembaca bahwa Allah tidak segan-segan memberikan hidup permanen (kekal kepada manusia), tertulis dalam Kejadian 2 dan 3. Jadi apapun dapat dipakai Tuhan untuk menunjukkan kuasa dan pesanNya kepada manusia.

4. Lalu pembicara (Ps Steven Djie) ini banyak menyinggung tentang penterjemahan Alkitab terbitan LAI. Dengan mengatakan tata bahasa yang kurang bagus dan terjemahan yang kurang bagus. Oke!! Saya sependapat akan hal ini, tetapi yang saya imani sekalipun Alkitab (LAI) banyak kekurangan, tetapi yang menulis Alkitab ini juga pasti diilhami oleh Roh Kudus, karena yang menulis Alkitab ini adalah manusia yang banyak kekurangan dan kelemahan. Dan kita tahu juga bahwa bahasa Indonesia juga sangat minim kata-kata. Dan yang paling kita tahu adalah bahwa Alkitab kita bukan turun dari surga, sehingga tidak ada kesalahannya. Maka itulah gunanya membaca tafsiran, sumber dan tulisan-tulisan akhirnya merenungkan firman itu dengan pimpinan Roh Kudus sehingga pembaca tidak salah menjelaskannya.
Yang namanya terjemahan tetap tidak ada yang sempurna, sehebat dan sejago manapun orang menterjemahkannya pasti juga akan mengalami kekurangan dan kesalahan. Lalu sekarang ada Kitab Suci yang baru terjemahan ILT (Indonesia Literal Translation) saya pernah tanya kepada kepada yang membawa seminar (Ps Steven Djie), mengapa ILT cetakan pertama dan ILT cetakan ke dua mengalami banyak perubahan bahasa yang juga tidak ada penulisan revisi oleh ILT. Jadi misalkan sudah direvisi, keluarlah cetakan ke 3 oleh ILT, maka apa yang terjadi. Menurut saya yang terjadi adalah bahwa cetakan ke 2 telah merevisi cetakan ke 1 dan cetakan ke 3 telah merevisi cetakan ke 1 dan cetakan ke 2. Misalkan dalam satu keluarga bapak punya ILT cetakan ke 1, ibu punya cetakan ke 2, anak punya cetakan ke 3. Mereka saat teduh bersama-sama, membuka satu pasal, ternyata dipasal itu ada banyak kata-kata yang berbeda, bukankah mereka akan bingung membacanya dan mereka akan berkata, kok bisa begini terjemahan Kitab Suci ILT ini, buat pembaca bingung saja membacanya???

Dengan demikian saya berpikir, punya sendiri saja masih banyak kesalahannya, kenapa meributkan punya orang lain. Kenapa kita harus mencari-cari kesalahan LAI, sementara kita sendiri pun banyak salah, bukankah ini seperti perumpamaan Tuhan Yesus yang tertulis dalam Matius 7:4 Bagaimana engkau dapat berkata dengan saudaramu: biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok dimatamu”. Saya ilustrasikan begini, beranikah perusahan elektronik mengeluarkan tape recorder, tanpa ada tombol play nya (alias belum siap jadi)? Kalaupun sekiranya ini terjadi pesan yang saya tangkap dari perusahaan ini begini, kamu beli dulu, nanti setelah kamu membeli tape recorder ini, baru perusahaan akan pasang tombol playnya. ini namanya membuat yang mudah menjadi sulit, sementara yang sulit menjadi tidak mengerti. Barang yang belum siap jadi, hendaknya janganlah dipasarkan dulu karena pasti tidak akan laku.

5. Kemudian terjadi sharing antara saya (Pdt Jontri) dengan pembicara seminar (Ps Steven Djie) melalui telephon seluler, pada hari Jumat tgl 26 Maret 2010, pkl 10.04-11.03. Adapun beberapa inti pokok yang kami sharingkan adalah sebagai berikut,

a. Beliau mengatakan bahwa Perjanjian Baru (PB) bukan ditulis dengan bahasa Yunani, tetapi dengan bahasa Ibrani. Saya yang sekolah Theologia agak heran dengan perkataan beliau, dari mana buktinya? Lalu beliau berkata ada naskah2nya/sumber2nya? Kemudian saya bertanya kepada beliau, apakah sumber atau naskah yang mengatakan bahwa PB ditulis dalam bahasa Ibrani lebih banyak dari pada sumber yang mengatakan bahwa PB ditulis dalam bahasa Yunani. Beliau mengatakan bahwa sumber/naskah yang mengatakan PB ditulis dalam bahasa Yunani lebih banyak. Jadi dengan demikian, masakan sumber yang lebih sedikit menjadi acuan dan pandangan berpikir. Bagaimana mungkin yang sedikit bisa menang dari pada yang banyak. Sebagai contoh, masalah pilkada, masakan suara yang sedikit bisa menang? Kan sangat tidak mungkin hal itu terjadi. Suara yang terbanyaklah yang menang. Dan lihat partai-partai politik kita? pernahkah ada partai politik yang besar dikatakan bergabung dengan partai politik yang kecil? Yang ada adalah partai politik yang kecil bergabung atau menggabungkan diri pada partai politik yang besar. Sama halnya dengan yang saya bicarakan di atas, Tentu naskah/sumber/data yang paling banyak lah yang paling akurat, yang paling dipercaya dan lebih mungkin untuk benar. Maka tentulah PB ditulis dalam bahasa Yunani.
Dalam debat terbuka tgl 14 juni 2008 di GKRI, GOLGOTA, di jalan Dinoyo 14b, antara Pdt. Teguh Hindarto dan Pdt. Kristian Sugiarto (dua pendeta ini adalah pengagung nama Yahweh) versus Pdt. Budi Asali dan Pdt Esra (kedua pendeta ini adalah sebagai pembanding dari pandangan pengagung Yahweh). Teguh Hindarto dan Kristian Sugiarto dengan berat hati dan segan akhirnya mengakui bahwa bahasa asli PB adalah Yunani. Setelah saya membaca perdebatan ini maka yang muncul dibenak saya adalah, bahwa orang-orang pengagung Yahweh ini tidak konsisten, sesama kawan pengagung Yahweh saja tidak kompak, tidak satu bahasa. Lebih baik jujur dengan diri sendiri, jangan karena gengsi dan karena kesombongan tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Lalu mencari-cari kesalahan orang lain yang kecil-kecil, untuk membenarkan diri dan pendapatnya. Jika kita memang beda pendapat tidak apa-apa, bagi saya pribadi perbedaan itu membuat saya bisa belajar lebih banyak lagi, tetapi jika kita berbeda dengan orang lain, lalu mencari kesalahan-kesalah kecil dari orang itu, sebenarnya sudah ada niat dalam hati kita untuk merusak hubungan kita dengan orang tersebut. Hendaklah kita lebih bijaksana dan lebih banyak belajar dan mendengar. Marilah kita menerapkan firman Tuhan yang tertulis dalam I Petrus 4:8b “ Sebab kasih menutupi banyak sekali dosa”
Saya tidak akan menjelaskan hal ini terlalu dalam, karena saya bukan ahli PL dan ahli PB, kalau ada butuh file ini cari saja di google, ketik Pdt Budi Asali, disitu beliau menjelaskan sampai 2 bab tentang bahasa Perjanjian Baru yang ditulis dalam bahasa Yunani.

b. Lalu saya mengatakan demikian Okelah misalkanpun bahasa PB adalah bahasa Ibrani, mengapa dalam Kitab Suci ILT tidak mengganti nama Yesus menjadi Yeshua HaMashiakh? Lalu beliau mengatakan bahwa ILT siap untuk terima kritikan dan siap untuk direvisi kembali. Baiklah saya akan menununggu waktu itu.

c. Lalu saya berkata kepada beliau (Ps. Steven Djie) demikian, saya masih ingat dalam seminar di Hill hotel Sibolangit, Sumatera Utara pada tanggal 26-27 Februari 2010, beliau mengatakan bahwa jadikan kitab Suci ILT ini sebagai pembanding/pelengkap dari Alkitab (LAI), tetapi dalam kenyataanya bukan begitu, tetapi menjadi satu keharusan dipakai. Lalu beliau (Ps Steven Djie) menjelaskan dengan ilustrasi minuman Fanta dan Cola-cola, agar cola-cola lebih laku dengan Fanta, maka dalam iklannya cola-cola akan berkata kapan pun dimana pun harus cola-cola. Lalu saya menjawab bukan begitu mukse (pendeta) bukan harus, tetapi kapan pun, dimanapun selalu cola-cola. Setelah mendengar itu beliau, tertawa, hehe. Mungkin tertawa karena malu kali yah???hihi
Pernahkan dalam iklan, Cola-cola menjelek-jelekkan atau mencari-mencari kesalahan Fanta. Atau sebaliknya? Tidak pernah terjadi, karena Cola-cola atau Fanta, lebih bijaksana, lebih bisa menjaga kode etik, dari pada saya kali yahhh…hihi, sedikit bercanda neh…

d. Kemudian saya mengatakan bahwa tidak ada kepastian dalam pelafalan/penulisan dan kata-kata dari YHVH, karena menurut sumber/sejarah bahwa kata itu sudah hilang (baca di atas). Lalu beliau mengatakan bagaimana bisa anda membaca haleluya, amin, Israel, Melkisedek (seperti tulisan Ps Steven Djie hal 7). Saya jawab sederhana saja. Bagi orang Ibrani tidak akan susah membaca bahasa Ibrani sekalipun tidak ada huruf hidupnya karena itu bahasa mereka, tetapi bagi orang Indonesia, orang Batak, Melayu dan Jawa tentu akan kesulitan membacanya karena itu bukan bahasa mereka.
Saya Tanya sama mukse (ini tidak saya bicarakan disaat itu) bisa ga mukse baca aksara Batak? Atau bisa ga bahasa batak? Saya yakin mukse tidak bisa? Karena mukse bukan orang Batak. Jangankan bahasa Batak? bahasa Hokkien dan Mandarin aja mukse ga terlalu pintar, padahal mukse orang Tionghoa. Tetapi di negara China mereka akan sangat mengerti bagaimana membaca dan menulis bahasa Hokkien dan Mandarin dengan baik. Kalaupun mukse bisa bahasa Batak tentu pelafalan/kalimat, dan kata-katanya pasti amburadul.

e. Mukse (Ps Steven Djie) mengatakan bahwa Allah itu bukanlah Allah orang Kristen, tetapi Allah orang Islam, bahkan itu tertulis dihampir semua bagian materinya. Tetapi saya mengatakan kepada beliau padahal Allah sudah dipakai umat Kristen di Arab, sebelum Islam ada. Umat Kristen di Arab memakai Allah untuk menyebut Tuhan mereka. Lalu beliau berkata masakan kita berkiblat ke orang Kristen di Arab?
Saya memang belum menjawab pertanyaan ini pada saat itu. Tetapi menurut saya Tuhan tidak pernah menyuruh kita berkiblat kemana-mana. Karena Allah kita bukanlah Allah yang tertutup, bukan Allah untuk satu bangsa. Tetapi Allah kita adalah Allah yang terbuka/menyeluruh (Universal) dan Allah untuk setiap bangsa-bangsa. Kalau kit baca Matius 28:18-20, ayat ini sering kita sebut “Amanat Agung” yang intinya adalah bahwa Yesus mengatakan “beritakanlah Injil”. “Bukan beritakanlah siapa nama Bapa-Ku”, di bawah akan saya jelaskan bahwa Paulus, juga pernah belajar Firman Allah di Arab

f. Adalah kesalahan besar jika nama Yahweh muncul dalam Perjanjian Baru, seperti Kitab Suci ILT, karena bukti sejarah telah mengatakan bahwa kata YHWH telah diganti kedalam bahasa Yunani, Kurios (Tuhan) dan Theos (Allah). Karena Yesus sendiripun sebenarnya tidak pernah menyinggung atau memanggil BapaNya dengan Yahweh. Ada banyak sebutan yang disebut Yesus untuk memanggil Tuhan. Yaitu, Bapa, Yang Maha Tinggi, Dia, Engkau, dll. Karena Yesus sendiripun lebih tahu diri dan lebih sopan dari kita. Kalau anak saya memanggil saya dengan nama saya, dia berkata Jontri, kamu sedang apa? Satu kali dia memanggil saya dengan nama saya, maka saya akan berpikir dia bercanda, tetapi kalau setiap kali, maka dia sudah tidak sopan dan harus didik dan diajarkan yang benar. Seharusnya dia memanggil saya papa, bapak, ayah, amang, papi, bokap, dll. Saya juga berharap dalam hal ini Ps Steven Djie juga bisa merendahkan hatinya untuk mengubah pandangannya.

g. Lalu saya bertanya kepada beliau, kira-kira bagamana menurut mukse, hubungan bahasa Ibrani dan bahasa Aram (Aramic/Arab), Ps Steven Djie berkata sama-sama bahasa. Kalau ini anak SD pun tahu. Lalu saya menjawab, maksud saya begini apakah bahasa Ibrani dan Bahasa Aram seperti bahasa Hokkien dan bahasa Inggris yang sangat berbeda atau seperti bahasa Khek dengan bahasa Mandarin, yang agak mirip tetapi artinya bisa berbeda? Lalu beliau menjawab yah begitulah agak mirip dan mempunyai hubungan yang dekat. Lalu saya mengatakan kepada Ps Steven Djie, kalau begitu, mungkin tidak bahasa Aram juga ada dalam Perjanjian Lama? Dia berkata mungkin saja.

h. Lalu saya katakan kepada Ps Steven Djie bahwa sebagian besar bahan seminar dari Ps Steven Djie adalah tulisan Yakub Sulistyo. Saya punya bukunya berjudul Yahweh-Allah. Jadi saya pikir itu juga bukan hasil pembelajaran dan perenungan Ps Steven Djie. Menurut saya ini seperti beberapa anak sekolah yang suka mencontek Pekerjaan Rumah (PR) kawannya.

i. Tadi mukse (Ps Steven Djie) katakan bahwa rasul Paulus adalah orang terpelajar/cendikiawan dan Paulus juga menguasai bahasa Yunani. Bagaimana mungkin Paulus menulis surat-suratnya dalam bahasa Ibrani? Tentulah dia menulis dalam bahasa Yunani. Kalau Paulus menulis dalam bahasa Yunani, bagaimana mungkin Paulus berani menuliskan dan menyebut nama Yahweh dalam surat-suratnya?

Saya yakin sekali karena Paulus adalah orang terpelajar/Cendikiwan, dia mengerti sejarah, maka saya percaya bahwa dia tidak akan menuliskan atau menyebut Yahweh dalam surat-suratnya, tetapi menggantkannya dengan bahasa Yunani, Kurios (Tuhanku) dan Theos (Allah ku). Karena Alkitabnya yang pertama kemungkinan besar adalah Septuaginta, terjemahan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani. Jelaslah, bahwa tujuan pelayanan rasul Paulus adalah kepada orang-orang non Yahudi (bukan Yahudi). Tertulis dalam Galatia 1:16 ’Berkenan menyatakan Anak−Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa−bangsa bukan Yahudi, maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia’





.......

_________________
Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya ( Amsal 10:22 )

Joemedancom
Manusia biasa
Manusia biasa


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik